Sunday, December 6, 2009
Tuesday, October 13, 2009
Saat Jika
Saat.... Jika.....
Saat pegawai sehat masih membetulkan selimutnya dipagi hujan
Saat pejabat sakit mengerling sudut langit-langit RS. Medika Intan
Saat bulan pucat terlambat meninggalkan matahari
Saat jalan basah di jakarta masih sunyi
Saat mal belum menggantikan pasar pagi
Saat puncak apartemen masih tertutup kabut sepi
Komputer ini sudah menyala layarnya
Ada lagu lembut mengalun merdu di sampingnya
Ada aroma kopi murah menantang gairah
Ada gagasan jernih mengalir dari kepala di depannya,
Mengalir huruf-huruf arial, menyusun kata, merangkai alinea
Cerdas, lintas meretas
Sungguh anugerah Kuasa yang tiada tara
Takkan pernah lagi saat pensiun nanti
Sebentar lagi...
Takkan pernah ada lagi.......
Mungkin Tuhan akan mengganti
dengan rahmah dan berkah yang lain
Mungkin, insya Allah....
Jika nafas tak makin berat
Jika tetap diberi sehat
Juga,...
Jika tak lupa kawan yang duka
Jika tak memangkas jatah sesama
Jika tidak banyak SPPD yang menjadi STNK hak milik
Jika tidak banyak sisa kontrak yang menjadi girik
Jika tidak tega melambung harga diam-diam
Jika tidak sampai hati melukis tandatangan
Jika terus bertobat dan bermunajat
Jika angan-angan ini bukan hanya angan-angan
Jika sebelumnya, andai disadari jauh hari...
Jika... Jika.....jangan.... jangan sekarang......
Lailahailalloh..aufhhfssss... hlesssssss.........
Toolloonnggg...... kau bawa kemana aku.......
Jangan....jangan....
belum sempat aku bertobat..............
Malaikat : “ Emang Gue Pikirin..”
Saat pegawai sehat masih membetulkan selimutnya dipagi hujan
Saat pejabat sakit mengerling sudut langit-langit RS. Medika Intan
Saat bulan pucat terlambat meninggalkan matahari
Saat jalan basah di jakarta masih sunyi
Saat mal belum menggantikan pasar pagi
Saat puncak apartemen masih tertutup kabut sepi
Komputer ini sudah menyala layarnya
Ada lagu lembut mengalun merdu di sampingnya
Ada aroma kopi murah menantang gairah
Ada gagasan jernih mengalir dari kepala di depannya,
Mengalir huruf-huruf arial, menyusun kata, merangkai alinea
Cerdas, lintas meretas
Sungguh anugerah Kuasa yang tiada tara
Takkan pernah lagi saat pensiun nanti
Sebentar lagi...
Takkan pernah ada lagi.......
Mungkin Tuhan akan mengganti
dengan rahmah dan berkah yang lain
Mungkin, insya Allah....
Jika nafas tak makin berat
Jika tetap diberi sehat
Juga,...
Jika tak lupa kawan yang duka
Jika tak memangkas jatah sesama
Jika tidak banyak SPPD yang menjadi STNK hak milik
Jika tidak banyak sisa kontrak yang menjadi girik
Jika tidak tega melambung harga diam-diam
Jika tidak sampai hati melukis tandatangan
Jika terus bertobat dan bermunajat
Jika angan-angan ini bukan hanya angan-angan
Jika sebelumnya, andai disadari jauh hari...
Jika... Jika.....jangan.... jangan sekarang......
Lailahailalloh..aufhhfssss... hlesssssss.........
Toolloonnggg...... kau bawa kemana aku.......
Jangan....jangan....
belum sempat aku bertobat..............
Malaikat : “ Emang Gue Pikirin..”
Terbang Menyusur Bulan
Terbang Menyusur Bulan
Lelaki kurus tercenung lunglai
Pohon pisang layu
Menyangga tubuh kering pilu
Di samping bekas rumah kayu
Di Lembah Gunung Tigo
Gerimis malam mulai menitik lagi
Menyambung hujan deras siang tadi
Rembulan hampir purnama memang
Tapi cahyanya pucat remang
Disalut mendung tipis
Bulan sendu hampir menangis
Seonggok tanya tak berjawab
Kemana padusi dan isterinya lenyap?
Tadi siang pergi ke pasar
Tak kembali di ujung senja
Tak mungkin nyasar
Tapi, bumi berguncang keras bakda ashar
Menyisa puing retak poranda
Pohon tumbang berguncang
Bukit longsor benam nagari
dan Ladang binasa ternak berlari
Getar keras menjelang adzan maghrib
Tigapuluh september Payaman hampir raib
Jarum gerimis semakin rapat
Menetes disela gurat
Wajah lelaki pucat
Merembes linang air mata
Air mata mengucur deras
Namun wajah kekarnya tak pernah meratap
Air mata itu yang mengalir kalap
Dari kelopak tampannya dimasa muda
Dihimpit, didesak gejolak dada
Dada sesak penuh tanya tak berjawab
Kemana si upik dan isterinya pergi
Malam semakin kelam, sunyi
Jengkerikpun menahan nyanyi
Hembusan angin menyapu gemulai
Lelaki kurus tertidur lunglai
Mimpi membuai....
Anak dan isterinya melambai
Terbang menyusur bulan
Lelaki kurus melambai topi pandan
“Menyusur Bulan...?”, dia bertanya
“Ya menyusur bulan... bersama Mande”, jawab anaknya
Wajah si upik dan senyum genit isterinya
Terbang melayang, dalam damai.......
Tanpa air mata berlinang.......
Meski raga terhempas, terkurung balok melintang
Semua yang diciptaNya, akan kembali kepadaNya
Inna lillahi wa ina ilaihi rojiuun...
Kala esok hari,
Kala mentari intip nagari
Kala mimpi telah usai
Lelaki kurus mengais kolong
Reruntuhan rumah kayu yang terdorong,
Terpotong-potong...
Mungkin ada sisa terbilang
Lauk isterinya kemarin siang
Lelaki kurus menggantang balak
Tak kenal kata bantuan, evakuasi,
Apalagi tenda satkorlak
Bahkan tak tahu dibalik lembah
Bandar Padang juga bergolak
Lelaki kurus menopang rindu
Melanjut hidup biduk berlalu
Tanya tak berjawab berbalut pilu
Mengapa...?
Padusi ambo menyusur bulan
Melambai dibalik remang
Dibalik awan hilang bayangan
Terbang menyusur bulan...
Terbang menyusur bulan....
Tangerang 1 oktober 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)